Sari, bukan nama sebenarnya, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan dua orang anak usia SD. Ia biasa berbelanja ke pasar tradisional atau swalayan seminggu sekali. Kali ini, ia beruntung mendapati ada diskon khusus untuk alpukat, menjadi Rp20.000/kg (sekitar 5 butir alpukat ukuran sedang). Sari segera membelinya, walaupun produk itu tak ada dalam daftar kebutuhan dan tidak banyak buah yang cukup matang di tumpukan itu.

“Kapan lagi dapat alpukat semurah ini? Nanti diperam juga matang, cukuplah buat seminggu ke depan,” katanya, mengambil 2 kg sekaligus.

Sayangnya, kualitas alpukat yang dibelinya kurang bagus, dan alih-alih matang sempurna, sebagian besar alpukat itu justru terasa pahit dan ia terpaksa membuangnya. Uang Rp40.000 rupiah terbuang sia-sia.

Mendengar cerita Sari, saya jadi teringat dengan daun-daun bawang, seledri, dan kemangi yang saya buang kemarin. Seperti biasa, jika sudah waktunya ke pasar, saya akan membeli stok bahan makanan untuk diolah selama minimal empat hari berikutnya. Salah satu bahan yang kerap saya beli adalah daun bawang. Kali terakhir belanja minggu lalu, kemangi masuk ke dalam daftar belanja karena saya ingin makan lalapan.

Baca selengkapnya: