Ellyta Indriastanti tiba di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, sekitar pukul 15.00 WIB. Sabtu itu, 14 Desember 2021, perempuan 24 tahun itu hendak reuni kecil-kecilan bersama empat orang temannya.Mereka sebetulnya bisa saja memilih pergi ke mal di Jakarta Barat yang—menurut Google Maps—tersebar di 15 lokasi. Namun, kelimanya menganggap mal terlalu sering disinggahi. Lagi pula, ia dan teman-temannya mengincar udara sejuk yang bukan berasal dari AC.

Jadilah mereka berkumpul di hutan seluas 10 lapangan sepak bola di Srengseng tersebut.“Sekalian main. Sudah lama enggak ke sini. Dulu waktu masih sekolah suka ke sini, tapi sejak zaman COVID-19 sudah enggak pernah,” kata Ellyta.

Hutan kota lazimnya merupakan hutan buatan (artifisial) yang dirancang untuk fungsi edukasi, rekreasi, dan ekologi. Ia berperan sebagai paru-paru kota yang menyerap emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan masyarakat perkotaan.Sumber emisi GRK terbesar di DKI Jakarta berasal dari sektor transportasi.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan bahwa sepanjang 2021, emisi dari sektor tersebut mencapai 11,86 juta ton CO2 ekuivalen. Banyaknya CO2 di udara itu pun mengakibatkan suhu Jakarta semakin panas.

Baca selengkapnya:

https://kumparan.com/kumparannews/hutan-kota-senjata-jakarta-hadapi-efek-gas-rumah-kaca-1xPoRuuXiw0/full