Jika ingin serius mengerjakan liputan-liputan berbasis data, media sebaiknya mulai memikirkan membentuk tim lintas keahlian di ruang redaksi. Gagasan itu disampaikan dalam Data Journalism Hackathon 2020 yang digelar Kedutaan Amerika Serikat bersama Indonesian Data Journalism Network.

Lokakarya dan hackathon selama dua hari itu mempertemukan jurnalis, programmer/developer, data scientist, juga desainer grafis untuk belajar dan mengerjakan proyek liputan bersama.

Di hari pertama, 15 peserta mendapat pelatihan soal bagaimana mencari, mengolah, dan memvisualisasikan data. Para desainer dan programmer juga dibekali materi soal otomasi konten serta bagaimana bermigrasi dari visualisasi statis ke interaktif. Pada hari ke dua, mereka bekerja dalam tim, membuat prototipe laporan berbasis data.

“Dengan komposisi tim yang beragam dan lintas keahlian, mereka bisa merobohkan hambatan teknis yang selama ini mereka punya,” kata Wan Ulfa Nur Zuhra, Direktur Eksekutif Indonesian Data Journalism Network yang juga jadi salah satu trainer di pelatihan itu.

Wan Ulfa menjelaskan, selama ini, banyak jurnalis yang memiliki hambatan untuk membuat proyek liputan berbasis data karena kemampuan olah data yang terbatas. Programmer misalnya, tahu caranya mengambil data tapi tidak tahu mana yang penting dan bisa jadi cerita menarik.

Sementara jurnalis, terlatih untuk menemukan cerita tapi sering kesulitan dengan teknik-teknik olah data dalam jumlah besar. Mempertemukan mereka dalam satu tim, bisa saling melengkapi.

Ia menambahkan, ada banyak media di Indonesia yang punya jurnalis, periset, programmer, desainer, dan analis data, tapi mereka bekerja sendiri-sendiri. Mungkin sesekali bekerja bersama dalam proyek tertentu, tetapi sehari-sehari, mereka berada di divisi yang terpisah.

“Saya pikir, yang dibutuhkan adalah, tim lintas-skill itu bekerja dalam satu tim, memikirkan dan mengerjakan liputan bersama sejak awal. Tim ini juga bisa bekerja model hibrida, jadi selain kerjakan liputan mereka sendiri, mereka juga membantu rekannya yang butuh data,” jelasnya.

Data Journalism Hackathon 2020 digelar di tiga kota, Bandung, Pontianak, dan Medan. Di akhir acara, para trainer memilih satu proyek terbaik di tiap kota. Di Bandung, proyek liputan “Bandung Lautan Api” jadi pemenang. Mereka akan bikin aplikasi berbasis web yang membuat pembaca bisa mengetahui apakah tempat tinggalnya rawan kebakaran atau tidak. Lalu jika rumahnya kebakaran, berapa lama mobil pemadam bisa tiba.

Di Pontianak, yang hampir setiap tahun berkutat dengan isu kebakaran lahan, terungkap bahwa jurnalisme data adalah salah satu cara untuk membuat liputan karhutla yang lebih mendalam dan dapat memberi gambaran permasalahan secara menyeluruh. Dua proyek yang diajukan tim-tim di Pontianak mengambil tema kebakaran hutan dengan mengusulkan pembuatan database dan visualisasi hotspot yang mudah diakses publik dan tak tergantung semata pada data dari pemerintah. 

Selain itu, tim lain juga mengusulkan proyek liputan bagus bertema pemanfaatan dana desa dan akses kelompok dengan disabilitas pada pekerjaan. Adapun yang terpilih sebagai pemenang di Data Journalism Hackathon Pontianak adalah tim dengan proyek liputan “Mati Suri Transportasi Publik Pontianak”. Tim ini berencana membuat visualisasi data dalam bentuk video berdasarkan data trayek moda transportasi umum di Pontianak. Diharapkan, proyek ini dapat memetakan kelemahan sistem transportasi publik di Pontianak sehingga dapat jadi masukan bagi pembuat kebijakan.

“Menurut saya, kolaborasi ini membuat proyek-proyek liputan yang diusulkan jadi lebih ambisius. Kalau kolaborasi macam ini dilakukan di ruang redaksi, mungkin kita akan punya lebih banyak karya jurnalistik bermutu,” ujar Moyang Kasih Dewimerdeka, Project Leader Data Journalism Hackathon 2020.

Di Medan, kasus kematian puluhan ribu babi dan berbagai dampaknya terhadap ekonomi dan sosial masyarakat Sumut mendapat perhatian para peserta. Ada dua tim yang mengajukan proyek dengan tema ini. 

Proyek liputan bertajuk “Di Atas Cincin Api”  jadi pemenang di Medan. Proyek ini akan mengangkat soal polemik pembangunan rumah di atas kawasan bencana di pesisir Aceh. Masalah ini akan disajikan lewat peta interaktif.

Wakil Juru Bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Jakarta, Sita Raiter yang hadir pada saat penutupan acara di Pontianak  menyampaikan bahwa jurnalisme yang kuat berperan sangat penting dalam demokrasi. Karena itu, Amerika Serikat melalui program-programnya selalu mendorong terciptanya ekosistem media yang dapat menjadi sistem kontrol dan mendorong akuntabilitas dalam masyarakat demokrasi. 

“Kami senang mendukung program Data Journalism Hackathon karena program ini dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas jurnalisme,” kata Sita Raiter.